Pakar Beber Dasar Pemikiran Pembukaan Sektor Ekonomi di saat Pandemi

banner 160x600
banner 468x60

JawaPos.com – Kebijakan pemerintah membuka kembali sektor ekonomi di tegah pandemi Covid-19 disikapi banyak kalangan. Ada yang pro dan tidak sedikt yang kontra.

Salah satunya, Pengamat kebijakan publik dari Universitas Sultan Agung Tirtayasa Leo Agustino, yang menganggap kebijakan pemerintah itu tentu saja didasari dengan pertimbangan yang kuat.

Karena menurutnya, tekanan dan ancaman krisis yang terjadi akibat pandemi, tak hanya dirasakan oleh para pengusaha tapi juga oleh banyak sekali tenaga kerja yang terlibat. Sebab, tidak sedikit bidang usaha yang kelasnya menengah tapi bisa mempekerjakan ratusan orang, kini sudah mengalami tekanan krisis dan ini tentu berimbas pada orang-orang yang dipekerjakan.

“Dalam kondisi ini kebijakan pemerintah untuk membuka sektor ekonomi memang jadi penting, paling tidak untuk hidup minimal saja bagi para pengusaha dan tenaga-tenaga kerja yang mereka miliki,” kata Leo Agustino dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/6).

Diketahui, pembatasan kegiatan yang telah dijalankan selama dua bulan terakhir, membuat berbagai bidang usaha praktis tidak berjalan dan tidak menerima pemasukan sama sekali. Sementara, para pengusaha dituntut untuk tetap bisa mempertahankan hak-hak dan upah para pekerjanya.

“Contoh yang saya kenal dan lihat sendiri ada di Jawa Barat, tidak sedikit rekanan pebisnis yang walau usahanya tidak besar, tetap berupaya menggaji walau tak ada pemasukan. Ini tekanan nyata bagi pengusaha yang memang terjadi di lapangan,” kata Leo.

Menurutnya, pemerintah sebagai regulator tentu berusaha berpijak pada semua kepentingan. Tudingan pemerintah terlalu berpihak pada pengusaha di saat pandemi, sebenarnya kurang tepat karena sektor usaha dan ekonomi justru sudah dihentikan selama dua bulan ini.

“Jeritan-jeritan juga muncul dari para tenaga kerja dan buruh. Skema bantuan memang sudah ada, tapi tentu tidak bisa 100 persen tepat sasaran. Ada klaster-klaster pekerja yang mungkin tidak tersentuh karena sektornya informal,” kata akademisi lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia itu.

Selain itu, lanjut Leo, pembukaan kembali sektor ekonomi juga tak serta merta menyelesaikan masalah. Ancaman minimnya suplai barang yang mulai terjadi, para pekerja yang sudah banyak diputus hubungan kerja dan akan kembali masuk pasar tenaga kerja, hingga sektor informal yang lumpuh akan segera menjadi beban ekonomi ke depannya.

“Secara regulasi, pemerintah dan legislatif melihat bahwa Covid-19 jadi momentum yang tepat untuk menggolkan RUU Cipta Kerja yang memang sudah dipromosikan sebelum adanya pandemi ini,” kata Leo.

Menurutnya, kegiatan ekonomi memang perlu perlahan dibuka dan dibangun kembali dengan tetap ada pengawalan, pengawasan, dan sanksi yang tegas terkait hubungannya dengan protokol kesehatan.

“Perlu ada penegak hukum juga yang bisa memberikan sanksi yang jelas, mungkin bisa dengan menghentikan sementara lagi bisnisnya. Supaya sadar ada tanggung jawab moral bersama supaya Covid-19 ini tidak menyebar lebih luas lagi,” kata Leo menutup.

 

Pakar Beber Dasar Pemikiran Pembukaan Sektor Ekonomi di saat Pandemi

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Pakar Beber Dasar Pemikiran Pembukaan Sektor Ekonomi di saat Pandemi"